Langsung ke konten utama

Postingan

"Selamat Hari Guru, Bapak Ibu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

  “Nanti upacara ya, Pak?”, tanya salah seorang anak. “ Iya, nanti upacara,.. Ayo segera siap-siap.” Jawabku ringan.                 Menginjak minggu keempat, kakiku berada di tanah Selengot. Sebuah desa di daerah pesisir dengan jajaran kayu ulin sebagai alas bangunan-bangunan warga. Panorama laut yang mengelilinginya menjadikan mata tidak mau berpaling. Perahu-perahu nelayan bersandar di tepi rumah siap mengantarkan tuannya kemana ia mau. Anak-anak melompat dari jembatan, berenang menyusuri jalanan ketinting tuk merasakan kebahagiaan yang tidak terbeli di tanah lain. Belum lagi kerlap-kerlip bintang di malam hari menambah kesempurnaan ciptaanNYA.                 Pukul 07.00 aku melangkah menuju sekolah ditemani beberapa siswa. Di Senin pagi ini langit begitu cerah setelah diterpa hujan semalam yang lumayan kencang. ...

Berlian-berlian itu Ingin Menyala

Aku mulai meraba-raba. Kulihat langit mendung di sudut sana. Di balik terangnya matahari yang terhimpit oleh hitamnya kabut disiang hari.   Aku terpesona dengan alam Selengot yang indah menawarkan sejuta kenangan. Tak lepas mata ini memandang laut yang mulai kelabu. Anak-anak begitu riang meloncat dari balik jembatan, berenang disela-sela perahu yang sedang bersandar. Tercium kebahagiaan yang tak terbeli di tanah lain. Ibu-ibu menggelar ikan di bawah terik matahari yang sangat menyengat. Bapak-bapak menyulam jala agar tangkapannya esok lebih terihat. Kayu-kayu ulin berjajar rapi mengantarkanku ke sebuah tempat . Tempat yang mengantarkan berlian-berlian kecil untuk terus berkilau. Di tempat inilah empat belas bulan aku akan bersama mereka. SDN 005 Tanjung Harapan. Sebuah bangunan dari kayu dengan cat khas berwarna hijau bealaskan kayu-kayu ulin yang berdiri kokoh di atas lumpur laut selat Makasar. Sebuah tiang tanpa bendera berdiri kokoh di di depannya. Aku mulai membac...

Menyelam

“Kita berada di pos apa?”, tanyaku pada mereka. “........................”, tak terdengar jawaban apa pun. “Siapa yang tahu, sekarang kita berada di pos apa?”, aku mempertegas pertanyaan. Akhirnya, terdengar juga suara lirih dari mereka, “Di pos mikroskop.” Ku tarik kedua ujung bibirku,“Ok, siapa disini yang sebelumnya pernah lihat mikroskop?”, aku menambahkan pertanyaan yang kedua. Tak terlihat satu pun yang mengangkat tangan. Hanya senyum-senyum manis terlihat merekah di antara kedua bibir mereka.  Hemh,... malaikat-malaikat kecil yang lucu, yang nantinya akan berdiri mengambil peran masing-masing dalam mambangun negeri ini. Benih-benih bintang yang akan menghias langit di kegelapan malam.   Aku telah dirayunya. Untuk menjadi bagian kecil dari ujung galaksi yang berisi beratus-ratus bintang. Aku ingin berputar menyelami alam raya bersama mereka. Ya, kini ku siapkan senjata-senjata yang akan aku gunakan untuk menyelam bersama mereka di langit nan luas nanti. ...

Melangkah

        Jarum pendek jam dinding telah menunjukkan angka satu sedangkan jarum panjangnya di angka dua belas. Alhamdulillah, akhirnya beres juga setelah bolak-balik memindahkan barang dari tas carrier seukuran 75L ke tas ransel. Bingung bertumpuk-tumpuk mulai dari persiapan barang yang harus dibawa, tas mana saja yang dibawa, bagaimana menatanya, dan yang tak kalah beratnya adalah keyakinan terhadap keputusan ku.             Malam semakin senyap. Aku niatkan untuk istirahat sekedar merebahkan tubuh. Hingga alarm pun berbunyi tepat pukul tiga pagi. Mulai ku persiapkan diri untuk beranjak dari bumi Surabaya yang entah apakah aku masih akan kembali lagi kesini atau tidak. Perasaan gelisah dan bertanya-tanya mulai bermunculan.          Pukul 05.00, aku sudah di Juanda airport. Segera ku selesaikan persiapan sebelum penerbangan. Deg-degan mulai muncul saa...