Langsung ke konten utama

Postingan

Ehm.... Berjalan di Lentera Waktu, ah.... Susah didefinisikan

“Carrier biru, siap. Ransel, siap. Ehm... dua buah kardus, siap juga. Apalagi ya yang belum masuk...”, aku cek satu per satu barang bawaanku.  3 Januari 2014. Ya , hari ini aku bersiap-siap untuk meninggalkan 14 bulanku selama di desa Bintang Pesisir. Selesai sudah tugasku di desa Berlian tersebut. Ehm... tepatnya selesai sudah kontrak kerjaku. Atau apalah yang paling tepat, susah untuk mendefinisikan. Entah, senang, sedih, galau, bangga, atau apalah susah juga untuk didefinisikan. Yang pasti 14 bulan itu akan membuat hidupku lebih berarti. Aku pulang dengan banyak tanda tanya. Mungkinkah, mungkinkah, dan mungkinkah.... Akhirnya, dalam kesendirian kunyanyikan lagunya stinky, “Mungkinkah”. Ehm, galau iya. Trauma, iya. Tapi ada yang beda. Kemantapan hati ini semakin terbentuk. Keyakinan akan keadilan dan kemurahan-NYA, juga semakin tertata. Entah apalah artinya ini susah didefinisikan. Seminggu, terlewati. Dua minggu terlewati lagi. Serasa sudah setahun. Ehm...... 3 min...

Gema Takbir di Selengot

Selengot. Gema takbir telah berkumandang. Untuk pertama kalinya di desa Selengot mengadakan lomba takbir keliling. Pelombaan diikuti oleh siswa-siswi SD dan SMP di desa tersebut. Mereka berkeliling desa di atas jajaran kayu ulin yang memang tidak ada tanah di desa tersebut sambil mengumandangkan takbir. Pernak-pernik yang mereka buat seperti miniatur masjid dan obor dari bahan seadanya ikut menghias, memeriahkan suasana. Warga pun antusias untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Sebuah pemandangan yang tak biasa di desa tersebut yang memang karena geografis desa berada di sebuah pulau kecil jauh dari keramaian. Ide pertama diadakannya lomba takbir berasal dari pak darso, salah seorang guru SD di desa Selengot. “Biar lebih meriah dan berbeda diadakan saja lomba.”, kata beliau saat itu. Akhirnya, dari pihak takmir masjid pun setuju dan dibuatlah kepanitiaan dengan dibantu oleh guru-guru SD dan SMP di desa nelayan tersebut. Faisal, salah satu peserta lomba membuat miniatur masjid...

Menjawab Kekhawatiran

Kini..., kemurahan Yang Maha Kuasa menjadi tumpuan seluruh warga. Air dari langit, menjadi suatu barang yang lebih berharga daripada emas.... Kemarau telah datang. Wajar panas yang tinggi menjadi pemandangan setiap harinya di daerah pesisir. Namun, ada satu hal yang menjadi lengkapnya perjuangan di desa Selengot. Iya lagi-lagi masalah kebutuhan air bersih. Begitu berharganya air tawar di desa ini. Di musim kemarau seperti ini, tidak jarang tiap hari melihat perahu-perahu membawa drum atau jirigen untuk menadah air di pulau seberang sana. Bahkan, kadang kala jauh-jauh mengambil air ternyata sumur pun kering. Hingga akhirnya terpaksa harus membeli air ke penampung lainnya yang memiliki penampungan air lebih banyak itupun kalau mereka masih memiliki air, meski harus menggadaikan emas yang dimilikinya. Suatu hari aku pernah menyaksikan. Karena air benar-benar tidak ada terpaksa air mineral dalam gelasan menjadi solusinya. Minum, memasak, mandi, bahkan mencuci menggunakan air m...