Langsung ke konten utama

Postingan

Mereka Memang Istimewa

Mereka memang istimewa. Aku semakin percaya bahwa setiap anak terlahir dengan keunikan masing-masing. Siang itu aku berdiri di depan mereka. Di sebuah kelas dengan lantai dan dinding tersusun dari jajaran papan kayu. Kelas paling ujung selatan. Sekolah ku menghadap ke barat. Dari paling ujung utara hingga ke selatan berurutan ruang kelas 1, kelas 3, ruang guru, gudang, perpustakaan, kelas 4, kelas 5, dan kelas 6. Ya aku sedang berdiri di depan kelas enam. Kelas paling senior. Siswa-siswa paling besar di sekolah. Dan banyak orang mengatakan kelas yang berisi anak-anak yang sedang berada di puncak kenakalan. Namun, aku merasakan berbeda. Aku melihat dan merasakan berlian-berlian itu mudah untuk diukir. Aku menamainya sebagai laskar bintang. Bintang-bintang yang kelak akan bersinar di penjuru-penjuru nusantara. Mereka berjumlah delapan belas.  Siang itu aku mengawali pelajaran dengan bercerita. Cerita berjudul “Cermin buruk Muka” yang ku kutip dari buku BSE Bahasa Indonesia...

Selengot dalam Media 1

Selengot dalam Media 2

Selengot dalam Media 3

Selengot dalam Media 4

Penampilan Pertama

Awan mendung menggumpal di atas sana. Langit yang tadinya biru muda berubah menjadi keabu-abuan. Mungkin tidak lama lagi hujan lebat akan turun. Sore ini aku harus melatih anak-anak bermain seni rebana untuk persiapan tampil besok dalam rangka peringatan hari besar kelahiran nabi muhammad yang biasa disebut maulid nabi. Benar, hujan pun turun. Ku langkahkan kaki ini menuju sekolah sebelum hujan semakin deras. Hujan terus mengejar. Payung digenggamanku segera ku buka. Jalanan yang terbuat dari jajaran kayu ulin tidak membuat kaki kotor. Aku terus melangkah dengan gerakan semakin cepat.   Sampai di sekolah terlihat beberapa anak sedang berteduh di teras sekolah. Mereka baru saja bermain bulutangkis. Udara dingin membuat tubuh mereka menggigil. Sambil duduk di atas lantai teras sekolah, mereka berusaha menyeka air hujan yang menempel di tubuh. Melihat anak-anak kedinginan, segera aku mengambil kunci kantor agar mereka bisa menghangatkan tubuh di dalam ruangan. Semua kunci ruang...

PERAN "MEKSA"

Seru juga jika pernah merasakan beberapa peran. Ya, antara takut, khawatir, dan bahagia menjadi gado-gado yang siap disajikan dalam goresan tinta menyusuri lorong waktu yang terus berjalan. Itulah salah satu keberuntungan seorang PM. Eh keberuntungan atau kesialan ya... Ehmmm, bisa kedua-duanya deh. Tapi bagi saya itu suatu petualangan yang patut disyukuri dan menjadi ladang untuk belajar.  Empat minggu berjalan sudah, peran pun antri bergilir menghampiri jejak-jejak di tanah sini. Dan semua peran tidak ada yang ringan lho. Ini dia sepuluh peran berkesan di empat minggu pertama: Tukang pungut sampah di jalan. Petani, bercocok tanam padi di ladang, yang sebenarnya tambak diubah menjadi sawah. Tukang kayu, ngebaikin kursi-kursi yang rusak. Tukang cat pagar. Tukang servis komputer, HP, TV, kulkas, dan kipas angin. Tokoh agama, mimpin doa acara selamatan pernikahan. Fotografer di acara pernikahan. Kyai, mengobati orang kesurupan. Kapten kapal, nunjuk-nunjuk arah jalan p...